2.1 Artificial Intelligence
Projects
Salah satu contoh aplikasi AI yang
digunakan pada saat ini yaitu dalam bidang militer. Virtual reality dipakai
untuk melakukan simulasi latihan perang, simulasi latihan terjun payung. dan
sebagainya. Dimana dengan pemakaian teknologi ini bisa lebih menghemat biaya
dan waktu dibandingkan dengan cara konvensional.
Istilah Realitas maya tidak pasti
asalnya. Pengembang realitas maya, Jaron Lanier mengakui bahwa ia
menggunakan istilah itu pertama kali dan ada istilah yang terkait digunakan
oleh Myron Krueger adalah “kenyataan tiruan“ telah
digunakan sejak 1970.
Virtual Reality sering digunakan
untuk menggambarkan berbagai aplikasi, umumnya terkait dengan mendalam, sangat
visual, 3D lingkungan.Biasanya piranti Virtual Reality ini juga memonitor apa
yang dilakukan user. Misalnya kacamata yang mengontrol pergerakkan bola
mata pengguna dan meresponnya dengan mengirim masukkan video yang baru.
Virtual Reality kadang digunakan
untuk menyebut dunia virtual yang disajikan ke dalam komputer, seperti pada
berbagai macam game permainan komputer yang kini marak perkembangannya,
meskipun hanya berbasis representasi teks, suara dan grafis.
Sekarang, istilah Virtual Reality
mulai tergantikan oleh istilah Virtual Envoronment oleh para ahli
komputer. Konsepnya tetap sama, yaitu mensimulasikan lingkungan 3-D yang bisa
dijelajahi oleh pengguna seolah-olah benar-benar bisa dirasakan lewat indera.
2.2 Teknologi Virtual Reality
Virtual reality adalah sebuah
teknologi yang memungkinkan seseorang melakukan simulasi terhadap suatu objek
nyata dengan menggunakan komputer yang mampu membangkitkan suasana tiga dimensi
(3-D) sehingga membuat pemakai seolah-olah terlibat secara fisik. Virtual
Reality atau VR tidak hanya mensimulasikan apa yang ingin disimulasikan
seseorang yang diprogramkan di Komputer seperti dunia nyata atau sesuatu yang
lain, tetapi juga menciptakan kemampuan intelegensi dalam dunia virtual
tersebut, dalam bahasan ini mengenai simulai militer dalam angkatan bersenjata.
Sistem seperti ini juga dapat
digunakan untuk farmasi, arsitek, pekerja medis, dan bahkan orang awam untuk
melakukan aktivitas-aktivitas yang meniru dunia nyata. Sebagai contoh, pilot
dapat menggunakan sistem virtual reality untuk melakukan simulasi penerbangan
sebelum melakukan penerbangan yang sesungguhnya. Ini sangat membantu dalam menekan
biaya dan sumber daya manusia maupun sumberdaya alam yang dibutuhkan untuk
membantu dalam melakukan hal-hal tertentu. Dalam VR juga dapat dimasukkan
system pembelajaran, karena tidak nyata maka simulasi dapat dilakukan terus
menerus, seperti halnya ketika main game hanya saja system ini jauh lebih
cerdas karena dapat membantu kita mengenali object virtual dan berinteraksi
langsung dengan system, VR dibuat untuk mengenali sentuhan, gerakan,
tekanan,bahasa, dan lain-lain.
VR bisa disebut gabungan dari beberapa
aplikasi AI yang ada yaitu Cognitive architectures, Games, Motion and
manipulation, Natural language processing, semua yang ada disimulasikan dengan
system yang dibuat seperti apa yang dikenali manusia melalui penglihatan,
sentuhan, dan pendengaran.
2.3 Peranti Virtual Reality
Untuk mewujudkan suasana yang
menyerupai dunia nyata, virtual reality menggunakan peralatan-peralatan yang
dinamakan glove, headset, dan walker. Glove adalah peranti masukan yang dapat
menangkap gerakan tangan dan mengirimkan informasi gerakan ke sistem virtual
reality. Headset adalah peranti yang berfungsi untuk memonitor gerakan kepala.
Selain itu, peranti inilah yang memberikan pandangan lingkungan yang semu
kepada pemakai sehingga seolah-olah pemakai melihat dunia nyata. Walker adalah
peralatan yang dimaksudkan untuk memantau gerakan kaki. Peralatan ini dapat
digunakan untuk mengatur kaki pemakai agar merasakan beban seperti kalau
melangkah dalam dunia nyata. Sebagai contoh, kaki akan terasa berat untuk
melangkah ketika pemakai sedang menghadapi dunia semu berupa rawa atau medan
berlumpur.
Gambar 1. Piranti Dalam
Mensimulasikan Dunia Virtual
2.4 Cara Kerja
Virtual Reality dalam Bidang Militer
Cara kerja sistem virtual reality
pada prinsipnya adalah seperti berikut, pemakai melihat suatu dunia semu, yang
sebenarnya berupa gambar-gambar yang bersifat dinamis. Melalui perangkat
headphone atau speaker, pemakai dapat mendengar suara yang realistis. Melalui
headset, glove dan walker, semua gerakan pemakai dipantau oleh sistem dan
sistem memberikan reaksi yang sesuai sehingga pemakai seolahmerasakan sedang
berada pada situasi yang nyata, baik secara fisik maupun secara psikologis.
Gambar 2. Latihan tempur udara
Melawan Pesawat Virtual
Gambar 3. US Navy latihan
menggunakan ”Future Immersive Training Environment (FITE)”
dan ”Joint Capabilities Technology
Demonstration (JCTD)”
Gambar 4. Real Human .VS. Virtual
Human : mana yang lebih baik
Dari gambar diatas kita dapat
melihat bagaimana VR diaplikasikan dalam simulasi latihan militer yang
sesungguhnya. Konsep dalam pembangunan VR sebagai artifisial intellegent
terpadu yaitu :
2.4.1
Membangun Objek 3 Dimensi
seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya, VR dapat dijelaskan secara sederhana seperti sebuah gama yang dapat
kita kendalikan langsung dengan panca indra. Sebuat lingkungan dan objek 3D
dibuat sedetail mungkin sifatnya, bentuk, dan teksturnya. Seperti senjata misalnya
AK47, M16, Sniper Riffle Dragon, kendaraan berat misalnya tank, pesawat tempur,
area latihan, misal hutan, padang pasir, dalam sebuah gedung dan tentu saja
objek manusia sebagai latihan dinamis seperti musuh misalnya teroris atau
sandra dan mungkin kerumunan (crowd) orang dalam situasi latihan tertentu.
2.4.2
Membangun AI
kita masih membicarakan pengolahan
grafis, object 3D yang dibuat kemudian dihidupkan secara dinamis seperti
dunia nyata, bagaimana air mengalir, pohon tertiup angin, bagaimana api
membara, bagaimana manusia hidup, bagaimana alam berbicara. Disini mulai dapat
dilihan konsep kecerdasan buatan yang ada dalam VR, dalam latihan militer tentu
yang dibutuhkan adalah peralatan militer, objek hidup dan bahan pendukung
lainnya, misalnya seorang teroris diciptakan memiliki kemampuan
menggunakan senjata, memiliki kepandaian untuk menyerang tentara dan berusaha
(survive) mempertahankan dirinya, ini sebuah kemampuan yang jauh lebih tinggi
dari AI yang diciptakan dalam game perang misalnya Call of Dutty atau Ranbow
Six. AI yang dirancang untuk teroris virtual ini harus dibuat dengan sangat
dinamis, tidak mudah ditebak, memiliki perhitungan militer seperti tentara yang
sesungguhnya. AI tidak dibuat hanya untuk ini tetapi juga dalam simulasi
lainnya seperti latiahn pesawat tempur atau terjun payung, VR memandu pengguna
untuk belajar untuk diterapkan dalam dunia nyata. VR tidak sekedar sebuat media
simulasi tetapi sebuah lingkungan cerdas untuk membantu kita dalam
menyelesaikan masalah karena keterbatasan SDM dan SDA.
2.4.3
Kontrol AI
Setelah AI dirancang dalam system
virtual, kita membicarakan hardware untuk kontrol dunia virtual oleh prajurit
yang menggunakannya. Sebuah kacamata khusus, headset, glove dan baju khusus
yang memungkinkan pengguna dapat merasakan dirinya ada dalam dunia simulasi
menggunakan panca indranya. Misalnya bagaimana system membaca gerakan kepala,
mata, tangan atau kaki, dan mungkin diciptakan sensor untuk membaca semua gerak
tubuh, untuk mengkondisikan sebuah gerakan yang sama pada VR.
2.5 VRML
VRML merupakan kepanjangan dari
Virtual Reality Modeling Language. VRML sendiri adalah suatu format komputer
yang dapat menjelaskan objek 3 dimensi untuk digunakan secara online maupun
offline. VRML memiliki kemampuan menampilkan objek 3 dimensi statis maupun
dinamis, dan objek multimedia melalui hyperlink seperti suara, text, gambar dan
video. VRML merupakan salah satu system yang digunakan untuk memodelkan Virtual
Reality.
2.6 SIMNET
SIMNET adalah jaringan area luas dengan
simulator kendaraan dan menampilkan simulasi tempur yang real-time: tank,
helikopter dan pesawat di medan perang virtual. SIMNET dikembangkan dan
digunakan oleh militer Amerika Serikat. SIMNET dibangun dimulai pada
pertengahan 1980-an, kemudian mulai diterjunakan ke lapangan pada tahun 1987,
dan digunakan untuk pelatihan sampai program penggantinya datang pada
tahun tahun 1990-an.
Peralatan simulasi interaktif ini
sangat mahal, fasilitas pelatihan untuk memproduksinya juga mahal dan memakan
waktu. Pada awal tahun 1980, DARPA memutuskan untuk menciptakan sebuah sistem
prototipe penelitian untuk menyelidiki kelayakan membuat simulator real-time
didistribusikan untuk simulasi pertempuran. SIMNET, aplikasi yang dihasilkan,
untuk membuktikan baik atau kelayakan dan efektivitas suatu proyek
(Pimental dan Blau 1994).
Pelatihan menggunakan peralatan yang
sebenarnya sangat mahal dan berbahaya. Simnet dapat digunakan dengan jarak jauh
secara bersamaan, misalnya latihan antar Negara, mampu mensimulasikan skenario
perang tertentu, sangat mengurangi biaya pelatihan dan risiko cedera
pribadi (Rheingold 1992). Network SIMNET awalnya dijalankan kecepatan sekitar
56 kbit / s jalur dial-up, menggunakan prosesor paralel untuk kompres paket
melalui link data. Lalu lintas ini tidak hanya berisi data kendaraan, tetapi
suara juga terkompresi.
SIMNET dikembangkan oleh tiga
perusahaan: Delta Graphics, Inc; Perceptronics, Inc; dan Bolt, Beranek dan
Newman (BBN), Inc SIMNET simulator, faktor personil dan tim manufaktur
dirancang, dikembangkan dan dibangun lebih dari 300 penuh awak simulator,
mengintegrasikan kontrol, sistem suara dan sistem visual ke system simulator
khusus, mereka juga menginstal simulator di sejumlah fasilitas di Amerika
Serikat dan Jerman, melatih operator dan didukung sistem untuk beberapa tahun.
Selain jaringan, tantangan
mendasar kedua di SIMNET saat dikandung adalah ketidakmampuan sistem grafis
untuk menangani sejumlah besar model yang bergerak. Sebagai contoh, simulator
penerbangan paling kontemporer digunakan Partisi Ruang Biner yang efektif untuk
lingkungan komputasi diperbaiki sejak urutan tampilan poligon (yaitu, koherensi
kedalaman) dapat pra-dihitung. Sementara cocok untuk simulator penerbangan,
yang sebagian besar memiliki sudut pandang tetap di atas permukaan bumi, teknik
ini tidak efektif dekat tanah, di mana urutan yang overlay poligon setiap
perubahan lain dengan lokasi titik pandang.
SIMNET secara aktif digunakan oleh
Angkatan Darat AS untuk pelatihan terutama di Fort Benning, Fort Rucker, dan Fort
Knox. Lokasi sementara dan permanen tambahan di Fort Leavenworth dan
Grafenwoehr, Jerman. Tindak-on protokol untuk SIMNET disebut Simulasi
Interaktif Didistribusikan; Angkatan Darat AS utama tindak program adalah
Trainer Tempur Tutup Taktis (CCTT). Para SIMNET-D (Pembangunan) program yang
digunakan sistem simulasi yang dikembangkan dalam program SIMNET untuk
melakukan eksperimen dalam sistem senjata, konsep, dan taktik. Ini menjadi
Simulasi Demonstrasi Advanced Technology (ADST) program. Ini mendorong penciptaan
Labs Pertempuran di Angkatan Darat AS, termasuk testbed Warfare Mounted di Ft
Knox, Ky, Pertempuran Soldier Lab di Ft Benning, GA, yang Manuver Udara Lab
Pertempuran di Ft Rucker, AL, Pertempuran Kebakaran Lab di ft Sill, OK.
2.7 Dampak Negative VR
Semua hal di dunia ini pasti
memiliki kekurangan, entah dalam sesuatu itu sendiri atau penggunaannya, VR
dapat digunakan untuk mensimulasikan apapun dengan menciptakan objek 3D di
dalamnya, bahkan terpikir ide untuk menciptakan sistem virtual dengan konten
pornografi, ide yang cukup gila tapi sangat mungkin, banyak kemungkinan –
kemunginan lainnya tentu. VR merupakan simulasi yang membawa efek melalui
psikologis pemakainya, mereka dapat terjebak dalam system VR itu sendiri
walaupun dalam dunia game ini akan menjadi sangat menarik.
0 komentar:
Posting Komentar